KETERBACAAN VISUAL SEBAGAI DASAR MEDIA PENDIDIKAN

Pada mulanya konsep keterbatasan (literacy) hanya digunakan dalam konteks verbal yakni membaca dan menulis. Baru pada pertengahan tahun 1960 an mulai muncul konsep keterbacaan visual, dalam bentuk grafis seperti skets, gambar, foto, diagram, tabel dan lain-lain. Dengan demikian dalam buku-buku pelajaran mulai ditampilkan pesan-pesan visual melalui berbagai ilustrasi untuk memperjelas keterbacaan verbal. Lebih dari itu pesan-pesan visual disajikan pula dalam berbagai media massa seperti TV, percetakan dan produksi, pesan visual sangat efektif dalam memperjelas informasi, bahkan lebih jauh lagi mempengaruhi sikap seseorang, membentuk opini masyarakat dan lain-lain.
Pengajaran sebagai upaya terencana dalam membina pengetahun sikap dan keterampilan para siwsa melalui interaksi siswa dengan lingkungan belajar yang diatur guru pada hakikatnya mempelajari lambing-lambang verbal dan visual, agar diperoleh makna yang terkandung didalamnya. Lambang-lambang tersebut dicerna, disimak oleh para siswa sebagai penerima pesan yang disampaikan guru. Oleh karena itu pengajaran dikatakan efektif apabila penerima pesan (siswa) dapat memahami makna yang dipesankan oleh guru sebagai lingkungan belajarnya.
Tampilan lambang-lambang visual untuk memperjelas lambing verbal memungkinkan para siswa lebih mudah memahami makna pesan yang dibicarakan dalam proses pengajaran, Hal ini disebabkan bahwa visualisasi mencoba menggambarkan hakikat suatu pesan dalam bentuk yang menyerupai keadaan yang sebenarnya atau realisme.
Realisme dalam Pesan Visual
Pada dasarnya tidak ada bentuk media visual yang sepenuhny realistic, nyata, kongkret sama sekali disebabkan adanya tingkat realism isi pesan yang akan disampaikannya. Suatu objek atau kegiatan nyata yang dipelajari selalu mempunyai aspek-aspek yang tidak bisa dinyatakan seluruhnya secara ilustratif sekalipun melalui bentuk tiga dimensi atau gambar hidup. Dengan demikian visualisasi suatu objek atau kejadian tersusun secara kontinun mulai dari yang realistic sampai kepada yang paling abstrak.
Pengajaran akan lebih efektif apabila, objek dan kejadian yang menjadi bahan pengajaran dapat divisualisasikan secara realistic menyerupai keadaan yang sebenarnya, namun tidaklah berarti bahwa media harus selalu menyerupai keadaan yang sebenarnya. Sebagai contoh adalah model. Model sekalipun merupakan gambaran nyata dari objek dalam bentuk tiga dimensi tidak dapat dikatakan realistic sepenuhnya. Sesungguhnya model sebagai media pengajaran dapat member makna terhadap isi dari keadaan yang sebenarnya.

Belajar Dan Pesan Visual
Menerima pesan visual dan belajar daripadanya memerlukan keterampilan, oleh karena dengan melihat pesan visual tidak dengan sendirinya seseorang akan mampu belajar daripadanya. Itulah sebabnya para siswa harus dibimbing dalam menerima dan menyimak pesan-pesan visual secara tepat.
Dari hasil penelitian Seth Spaulding tentang bagaiman siswa belajar melalui gambar-gambar, dapat disimpulkan sebagai berikut (James W. Brown dkk, 1959:410).
1. Ilustrasi gambar merupakan perangkat pengajaran yang daapt menarik minat belajar siswa secara efektif.
2. Ilustrasi gambar merupakan perangkat tingkat abstrak yang dapat ditafsirkan berdasarkan pengalaman di masal lalu, melalui penafsiran kata-kata. Oleh sebab itu, guru hendaknya berhati-hati dalam menetapkan pengalaman artistic maupun pengalaman lingkungan di masa lampau. Pengalaman artistic maupun pengalaman lingkungan di masa lampau.
3. Ilustrasi gambar membantu para siswa membaca buku pelajaran terutama dalam menafsirkan dan mengingat –ngingat isi materi teks yang menyertainya.
4. Dalam booklet, pada umumnya anak-anak lebih menyukai setengah atau satu halaman penuh bergambar, disertai beberapa petunjuk yang jelas. Lebih baik lagi apabila lebih dari separuh isi booklet itu memuat ilustrasi gambar.
5. Islustrasi gambar isinya harus dikatikan dengan kehidupan nyata, agar minat para siswa menjadi efektif.
6. Ilustrasi gambar isinya hendaknya ditata sedemikian rupa sehingga tidak bertentangan dengan gerakan mata pengamat, dan bagian-bagian yang paling penting dari ilustrasi itu harus dipusatkan di bagian sebelah kiri atas medan gambar.
Selanjutnya dari 50 buah hasil penelitan Edmund Faison tentang penggunaan gambar dan grafik dalam pengajaran, dapat disimpulkan sebagai berikut (James W. Brown dkk. 1959:416) :
1) Terdapat beberapa hasil penelitian, yang menunjukan bahwa untuk memperoleh hasil belajar siswa secara maksimal, gambar-gambar harus erat kaitannya dengan materi pelejaran, dan ukurannya cukup besar sehingga rincian unsure-unsurnya mudah diamati, sederhana, direproduksi bagus, lebih realistic, dan menyatu dengan teks.
2) Terdapat bukti bahwa gambar-gambar berwarna lebih menarik minat siswa daripada hitam putih, dan daya tarik terhadap gambar bervariasi sesuai dengan umur, jenis kelamin serta kepribadian seseorang. Sekalipun demikian gambar-gambar berwarna tidak selamanya merupakan pilihan terbaik. Menurut hasil penelitian Seth Spaulding, kualitas warna diperlukan untuk gambar-gambar yang sifatnya realistic.
3) Dari hasil penelitian Mabel Rudisill mengenai gambar-gambar yang lebih disukai anak-anak menunjukan bahwa suatu penyajian visual yang sempurna realismenya adalah pewarnaan, karena pewarnaan pada gambar akan menumbuhkan impresi atau kesan realistik.

Menyimak Pesan Visual
Siswa menerima pesan-pesan visual, dipengaruhi oleh beberapa factor. Ada dua variable yang sangat penting, yaitu perkembangan usia anak dan latar belakang budaya yang dianutnya.
Hasil temuan ahli psikologi perkembangan anak, menunjukan bahwa keterbacaan visual dipengaruhi oleh tingkat kematangan jiwa anak. Misalnya, sebelum usia 12 tahun anak cenderung untuk menafsirkan pesan-pesan visual menurut bagian demi bagian daripa secara keseluruhan. Dalam menceritakan tentang apa yang mereka lihat digambar, mereka memilih unsur-unsur yagn spesifik, termasuk didalamnya adegan, sedangkan para siswa yang lebih dewasa cenderung untuk meringkas keseluruhan adegan dan melaporkan keseimpulan tentang makna gambar. Bilamana berbagai lambing abstrak atau jelas dipahami siswa, akan mengakibatkan gagalnya proses komunikasi edukatif bagi semua tingkat usia.
Pesan-pesan visual yang realistic dapat membingungkan para siswa yang berusia lebih muda. Begitu usia anak bertambah, dia akan lebih mampu memperhatikan secara selektif terhadap semua bentuk penyajian visual yang berdaya guna, untuk mempertinggi kemampuan belajarnya yang bersumber dari informasi yang dikehendaki (Robert Heinich, 1982:65). Di samping itu, usia perkembangan anak bisa mempengaruhi penafsiran terhadap penemuan-penemuan artistic dalam penggunaan garis-garis, misalnya sket, skema, besaran jarak dan lain.lain.
Hasil penelitian menunjukan bahwa isyarat gerak yang terdapat pada gambar tampaknya memperkuat gagasan mengenai gerak bagi anak-anak yang sudah dikembangkan selama masa tahap operasional sebagaimana dirumuskan Piaget pada anak-anak usia tujuh tahun, dibandingkan anak-anak yang lebih muda usianya. Demikian pula gambaran sosok-aktif, misalnya orang yang sedang berlari akan lebih baik dikomunikasikan bagi semu ausia dalam bentuk kerangka saja, sedangkan isyarat-isyarat, gerak dalam bentuk garis – garis percepatan, kurang bisa meyakinkan anak-anak. Dengan perkataan lain, sosok tubuh yang sedang berlari dalam bentuk kerangka akan lebih meyajinkan pada anak-anak, ketimbang isyarat-isyarat atau tanda-tanda dalam bentuk garis-garis, seperti sebuah bola yang melucur deras di udara diberi tanda garis-garis percepatan geraknya.

Memperhatikan pesan-pesan visual pada siswa dipengaruhi oleh latar belakang budayanya, kelompok siswa yang berasal dari latar belakang budaya yag berbeda-beda, secara individual mereka akan menyimak pesan-pesan visual berbeda pula, sebab latar belakang budaya bisa dipengaruhi oleh pengalaman belajar sebelumnya.
Mengamati Pesan Visual
Semua pengajar hendaknya memperhatikan bagaimana siswa-siswanya mengamati materi grafis dan visual lainnya. Apa yang mereka lihat di dalamnya akan menentukan apakah yang dapat disimak dari pesan tersebut. Dalam hubungan ini, ada dua cara untuk menentukan apa yang diperhatikan siswa dari pesan-pesan visual yang mereka lihat.
Pertama membuat kesimpulan berdasarkan apa yang dipelajari siswa dari materi gambar. Menurut para ahli ilmu jiwa perilau, cara mengamati dan apa yang diceritakan kembali oleh seseorang tentang materi gambar harus benar-benar diperhatikan karena hal itu amat penting bagi guru sebagai bahan masukan apakah siswa-siswanya memahami bahan pelajaran.
Kedua, tentukan pola gerakan-gerakan pengamatan, waktu siswa mengamati materi gamabr yang serupa. Dalam hal ini tidaklah penting bagaimana reaksi siswa sewaktu mengamati materi gamabr sebab yang lebih utama adalah apakah persepsi siswa terhadap materi gambar itu efisien, efektif atau tidak. Bisa saja para siswa itu sewaktu mengamati materi gambar dikacaukan oleh tanda-tanda, isyarat-isyarat yang tidak relevan dengan isi pelajaran yang terkandung pada materi gambar.
Medan gambar terbagi dalam empat bagian, dan persentase pada setiap perempatnya mewakili frekuensi sering tidaknya medan-medan gambar tersebut diamati.
Bagian sebelah kiri gambar,. Dua sampai tiga kali lebih sering diamati para siswa.

Hasil penelitian juga menunjukan adanya kecenderungan si pengamat mulai mengamati suatu gambar dari sebelah kiri, terutama pada bagian kiri atas. Jadi pengamatan dimulai oleh siswa dari bagian perempat kiri atas medan gambar ke arah kanan, lalu diteruskan dari bagian perempat kri bawah medan gambar sebelah kanan. Sebagaimana diketahui seseorang atau bangsa. Orang yang berasal dari budaya barat yang biasa belajar membaca dan menulis dimulai dari kiri kekanan, berbeda dengan orang-orang Arab atau Yahudi yang biasa menulis dari bagian kanan ke kiri. Diperkirakan pengamatan terhadap medan gambar pun akan sama.
Untuk merancang pesan-pesan visual, kita dapat menarik manfaat dari hasil penelitian tersebut dalam hal menempatkan permulaan pesan pokok, harus dimulai dari arah mana pandangan pertama pengamat meniliti medan gambar. Namun demikian tidak berarti bahwa semua informasi penting harus ditempatkan di atas sebelah kiri perempat gambar. Bisa saja bilamana pesan dikehendaki berdasarkan isi pelajaran harus terletak di bagian bawah medan gambar sebelah kanan dan mata pengamat harus diarahkan ke arah situ dengan mempergunakan unsure-unsur penggambaran warna, tekstur, komposisi dan lain sebagainya. Yang penting adalah bahwa kecenderungan siswa pertama kali mengamati medan gambar tidak dari sebelah kanan bawah. Oleh sebab itu imbangilah, bilamana pesan penting ditempatkan di bagian medan gambar itu.
Grafis sebagai Media Visual
Nilai media grafis terletak pada kemampuan dalam menarik perhatian, minat dalam menyampaikan jenis informasi tertentu secara cepat. Peran utamanya adalah memvisualisasikan fakta-fakta dan gagasan-gagasan dalam bentuk yang ringkas dan padat. Misalnya sebuah bagan ilmu hayat tentang pembelahan sel dapat mengikhtisarkan atau meringkas proses secara lengkap dari mitosis. Suatu bagan organisasi kantor dapat memperlihatkan dengan sekilas pandang saluran-saluran tanggungjawab dan fungsi bagian-bagiannya. Dari satu grafik demografi wilayah tertentu dengan segera bisa dilihat laju pertumbuhan penduduknya, dan seterusnya.
Dengan kata lain, media grafis dapat didefinisikan sebagai media yang mengkombinasikan fakta dan gagasan secara jelas, kuat dan terpadu, melalui kombinasi pengungkapan kata-kata dan gambar. Media ini sangat tepat untuk tujuan menyampaikan informasi dalam bentuk rangkuman yang dipadatkan.
Kesederhanaan alam tata letak (lay out) media pengajaran tampak pada gambar yang cukup besar dan jelas rincian pokoknya. Lambang-lambang gambarnya harus diberi garis yang cukup tebal karena ingin ditonjolkan pentingnya, tetapi rincian penjelasan cukup dengan garis-garis tipis saja.
Keterpaduan, mengandung pengertian ada hubungan erat di antara berbagai unsure visual sehingga secara keseluruhan berfungsi padu. Hal itu dapat dicapai dengan mempergunakan unsur-unsur yang saling tumpah tindih, penggunaan panah-panah penunjuk arah dan unsur-unsur visual lain, misalnya garis, bentuk, tekstur, warna, dan ruang.

Penekanan, memegang peranan penting dalam penyajian media pengajaran, walaupun penyajian visual bersifat tunggal, dengan satu gagasan pokoknya, memiliki keterpaduan, seringkali memerlukan penekanan pada hanya satu unsur saja yang justru memerlukan titik perhatian dan misat siswa.
Keseimbangan, mencakup dua macam yaitu keseimbangan formal atau simetris dan keseimbangan informal atau asimetris. Keseimbangan formal tampak pada susunan unsur-unsur visualnya terbagi dua bagian yang sama sebangun.

Garis, dalam pesan-pesan visual dapat berfungsi untuk menghubungkan berbagai unsur bersama-sama, serta mengarahkan pengamat dalam mempelajari unsur visual dalam urut-urutan khusus. Fungsi garis sebagai unsur visual adalah sebagai penuntun bagi para pengamat (siswa), dalam mempelajari rangkaian konsep, gagasan, makna atau isi pelajaran yang tersirat di dalam media visual yang dipertunjukan.

Bentuk, perlu diperhatikan dalam merancang media pengajaran suatu bentuk yang tidak lazim, dapat memberikan perhatian secara khusus kepada media visual, media pengajaran semacam itu mampu menarik minat para siswa secara efektif.
Ruang, merupakan unsur visual yang penting dalam merancang media pengajaran, Ruang terbuka yang mengelilingi unsur-unsur visual dan kata-kata akan menghindarkan kesan berdesakan. Hanya dengan pemanfaatan ruang secara hati-hatilah berbagai unsur visual dari sebuah rancangan media visual akan menjadi efekif.
Warna, merupakan penambahan yang penting untuk sebagian besar media visual, tetapi pemakaian harus hemat dan hati-hati bila menghendaki dampaknya yang terbaik. Pakailah warna dengan maksud memberikan kesan memisahkan, penekenan keterpaduan unsur-unsur visual. Pilihlah warna-warna yang memberikan kesan harmonis. Sebaliknya bila menggunakan warna-warna yang kumuh akan sangat mengganggu pengamatan siswa, sehingga dapat mengalihkan perhatian mereka dari kesan penting yang seharusnya disimak.

Hasil penelitian tentang keterbacaan visual dihubungkan dengan hasil belajar, menunjukan bahwa visualisasi pesan pada kedua kutub, yang abstrak dan kongkret membawa pengaruh yang sama terhadap hasil belajar siswa. Dengan kata lain, gambar yang terlalu abstrak tidak jelan bagi siswa, sedangkan gambar yang terlalu jelas rinciannya pun membingungkan siswa.
Penggunaan media visual dalam proses belajar-mengajar perlu memperhatian keterbacaan visual (visual literacy) demi meningkatkan efektifitas hasil belajar siswa.
MEDIA GRAFIS (GRAFIKA)
Graphics diartikan sebagai penjelaasan yang hidup, uraian yang kuat, atau penyajian yang efektif. Definisi tersebut dipadukan dengan pengertian praktis, maka grafis sebagai media, dapat mengkomunikasikan fakta-fakta dan gagasan-gagasan secara jelas dan kuat melalui perpaduan antara pengungkapan kata-kata dan gambar.

Bagan dan Diagram Buatan Sendiri
Guru murid dapat membuat sendiri bagan dan diagram sebagai pelengkap media lain. Bagan yang sederhana dan efektif dapat disiapkan dengan mudah dan tidak usah memiliki keterampilan artistic yang khusus. Setiap orang dapat membuat garis lurus dengan mistar dapat membuat bagan dan diagram yang baisa membantu menunjukan gagasan pokok.
Istilah bagan meliputi berbagai jenis presentasi grafis seperti peta, grafik, lukisan, diagram, poster dan bahkan kartun. Dalam hubungan ini, bagan didefinisikan sebagai kombinasi antara media grafis dan gambar foto yang dirancang untuk memvisualisasikan secara logis dan teratur mengenai fakta pokok atau gagasan. Fungsi utama dari bagan adalah untuk menunjukan hubungan perbandingan, jumlah relatif, perkembangan, proses, klasifikasi dan organisasi. Jenis bagan yang umumnya sering digunakan dalam pengajaran adalah bagan silsislah atau bagan pohon , bagan arus, dan bagan waktu atau bagan tabel.
a. Bagan Pohon
Sesuai dengan namanya, bagan pohon dikembangkan dari dasar terdiri atas beberapa akar menuju batang tunggal. Kemudian cabang-cabang pohon tersebut digambarkan perkembangan serta hubungan. Contohnya adalah bagan silsilah.

b. Bagan Alir
Merupakan kebalikan dari bagan pohon, sebagai contoh bagaimana industry mobil di Amerika bergantung dari pemasaran luar negerinya, baik untuk kebutuhan akan bahan baku maupun guna pemasaran hasil industrinya.

c. Bagan Arus
Sebuah organisasi yang beranggotakan pelajar atau sebuah kesatuan pemerintahan, proses pengembangan kepemimpinan industri, atau langkah dai mana sebuah rencana undang-undang menjadi langkah-langkah dai mana sebuah rencana undang-undang menjadi undang-undang dapt divisualisasikan dengan bagan arus atau bagan organisasi yag cocok untuk mempertunjukan fungsi, hubungan, dan proses.

d. Bagan Tabel
Urutan hubungan sepereti yang teredapat pada garis waktu atau tabel-tabeel waktu dapat dipertunjukan pada bagan tabel. Satu nilai yang unik dari bagan tabel, adalah kemampuannya dalam mempertunjukan hubungan. Variasi bntuk dari bagan ini teremasuk tabl informasi, semacam argummentsi dan sanggahan atas perjanian yang berelaku.

DIAGRAM
Diagram adalah suatu gambaran sederhana yang dirancang untuk memperlihatkan hubungan timbale balik terutaa dengan garis-garis. Bahkan diagram lebih unggul daripada bagan. Sebuah diagram yang baik adalah sangat sederhana yakni hanya bagian-bagian terpenting saja yang diperlihatkan. Diagram lebih sulit dibaca daripada bagan, karena hanya terdiri atas sebuah garis,sebuah garis besar dari sebuah objek nyata, atau sebuah sketsa penampangmemotong dari suatu objek misalnya silindre dari sebuah kendaraan bermotor, organ tubuh yang vital, pegunungan,bumi, dan lain sebagainya.
Sebuah diagram biasanya betul-beetul abstrak, misalnya diagram organisasi PBB. Sejauh manakah abstraknya diagram terseebutdiperelihatkan danbagimana siswa memahami konsep yang terkandung di dalamnya ?
Tempatkan diri andasebagai siswa ketika menganalisis sebuah diagram. Apakah ada yang keelihatan sukar dimengrti ? Jika demikian, menunjukan bahwa dalam merencanakandiagram dalam pengajaran perlu cermat dan jelas. Untuk membuat bagan lebih efektif,diagram haruslah terpusat pada gagasan pokok serta menghilangkanbagian-bagian yang tidak penting. Pengertian yang mendalam mengenai sebuah diagram, biasanya menghendaki latar belakang belajar dan pengalaman tangan pertama. Sebagian dari kita, tidak memahami benar sebuah diagram skematis dari suatu pesawat TV, karena kekurangan pengetahuan yang penting dalam menafsirkannya.
Penelitian Malter memberikan implikasi, bahwa diagram-diagram dan bahan-bahan yang sama karakter abstrak menghendaki kecermatan sebelum digunakan secara efisien dalam pengajaran. Sebagaimana diketahui penyajian diagramatis biasanya lebih baik dipakai sebagai ringkasan dan pengulangan daripada untuk memperkenalkan isi pelajaran. Walaupun demikian dalam proses belajar mengajar penafsiran terhadap media yang bagaimanapun konkretnya seperti gambar sangat tergantung pada pengalaman siswa yang dipergunakan dalam menafsirkan gambar tersebut. Sebuah diagram harus banyak menumbuhkan pengertian siswa setelah ia mempelajarinya.

Prosedur yang disarankan
a) Letakan rencana suatu bagan pada kertas dengan ukuran 21 x 27 cm atau lebih.
b) uSahakan bagan yang sederhana, Ingatlah bahwa bagan atau diagram yang baik itu menyajikan satu gagasan utama atau perbandingan. Bilamana bagan itu ruwet atau menyulitkan kepada siswa, maka keefektifannya akan hilang. Bagan harus mengesankan sekali lihat.
c) Buatlah bagan yang cukup besar sehingga mudah dilihat. Sebuah bagan yang dipergunakan di kelas harus cukup besar, sehingga bisa terbaca dari segala arah diruangan kelas.
d) Buatlah bagan itu semenarik mungkin. Gunakan warna secara kontras dan isilah ruangan kosongnya.
e) Utamakanlah kontras dengan cara memakai huruf dan gambar yang gelap dapa latar belakang.
f) Gunakanlah warna jika perlu, walaupun warna itu enak dilihat tetapi janganlah dipergunakan secara berlebihan. Jagalah warna itu agar tetap harmonis
g) Ingatlah ruangan itu penting peranananya.
h) Bila rencana itu sudah lengkap, buatlah sket dengan memakai pinsil pada bagan atau diagram kemudian baru dilengkapi.

Bahan-bahan
a) Huruf-huruf dan angka-angka berperakat atau terbuat dari karton, dari berbagai jenis tipe dan ukuran sangat berguna dalam membuat bagan
b) Untuk batang, garis dan lain-lain pita hitam atau berwarna, kedua-duanya mudah digunakan serta murah harganya.
c) Pena, tinta India dan cat poster dalam berbagai ukuran dan warna sangat baik untuk membuat rancangan daripada gambar atau garis lurus. Spidol dari berbagai ukuran dapat dibeli dari sebuah took alat-alat tulis dengan harga yang relative murah.
d) Papan cornell atau papan putih bagus untuk dipakai sebagai dasar. Papan cornell ini dapat dibeli dari ukuran 8×4 inci, dan dapat dipotong menurut keinginan.

GRAFIK
Grafik mungkin dapat didefinisikan sebagai penyajian data berangka. Suatu table gambar dapat mempunyai nilai informasi yang sangat berfaedah, namun grafik dari data yang sama menggambarkan intisari informasi sekilas akan lebih efektif. Lebih jauh, grafik menggambarkan hubungan penting dari suatu data. Grafik merupakan keterpaduan yang lebih menarik dari sejumlah tabulasi data yang tersusun dengan baik.

Jumlah siswa baru SMA Pembangunan
Perlu diingat bahwa tujuan umum membuat grafik adalah untuk memperlihatkan perbandingan, informasi kualitatif dengan cepat serta sederhana. Bila sebuah grafik ruwet dan sulit dibaca berarti akan kehilangan manfaatnya yang berharga. Konsep-konsep yang ruwet akan lebih efektif diperlihatkan, bila tuangkan ke dalam sebuah rangkaian grafik yang lebih sederhana daripada susunan grafik yang ruwet.
a. Grafik Garis
Adalah yang paling tepat dari semua jenis grafis, terutama dalam melukiskan kecenderungan-kecenderungan atau menghubungkan dua rangkaian data. Suatu grafik garis hendaknya digunakan bila data itu berkelanjutan. Grafik garis tampak pada gambar berikut.

b. Grafik Batang
Grafik batang mungkin yang paling sederhana daripada semua jenis grafik. Grafik batang sangat mudah dibuat. Tiap kelompok data yang dibagan, digambarkan oleh sejumlah batang, baik secara vertical maupun secara horizontal. Panjangnya batang melukiskan besarnya persentase data; semua batang dengan ukuran sama lebarnya. Grafik batang paling bermanfaat bilamana sejumlah nilai yang akan diperbandingkan relatif sedikit, umumnya tidak lebih dari delapan atau enam jalur. Kadang-kadang jumlah besar batang digunakan, namun dibutuhkan bagaian-bagian seperti warna, aau penyajian gambar-gambar supaya grafik lebih mudah dibaca serta menarik.

c. Grafik Lingkaran atau Piring
Bilamana guru akan memperkenalkan tentang pecahan, maka grafik lingkaran lebih tepat digunakan. Grafik lingkaran atau grafik piring adalah lingkaran sector-sektor yang digunakan untuk menggambarkan bagian-bagian dari suatu keseluruhan., Informasi seperti biaya sekolah distribusi biaya atau penyaluran sumber-sumber minyak bumi secara proporsional dapat digambarkan melalui grafik piring dengan baik sekali.
Ada dua macam ciri umum dari grafik lingkaran (1) grafik itu selalu menunjukan jumlah atau keseluruhan jumlah, dan (2) bagian-bagiannya atau segmennya dihitung dalam persentase atau bagian-bagian pecahan dari keseluruhan. Grafik lingkaran atau grafik piring di pergunakan untuk menggambarkan bagian-bagian terhadap keseluruhan. Bilamana ingin menggambarkan suatu hubungan kualitas individual tertentu terhadap keseluruhan, tampaknya adalah grafik piringlah yang paling alamiah dan mudah dipahami dalam pemakaian.

d. Grafik Wilayah dan Grafik Gambar
Grafik wilayah dalam bentuk persegi, lingkaran dan bentuk tidak teratur, kadang-kadang dipergunakan untuk memperbandingkan dua atau tiga hubungan keseluruhan. Sedangkan bentuk-bentuk bergambar seperti orang, ternak, kapal atau mobil dipakai kepada grafik gambar.

e. Grafik Gambar
Banyak penampilan yang menarik pandangan mata dari bentuk tiga dimensional yang diperoleh dengan warna rata, sederhana, bentuk dimensional yang diperoleh dengan warna rata, sederhana, bentuk-bentuk gambar melalui grafik gambar.
Statistik-statistik bergambar pertama kali diperkenalkan di Winal oleh Otto Neurath, yaitu seorang ahli sosiologi internasional yang terkenal. Neurath menyusun bentuk dan lambing yang disebut isotypes variasi yagn sekarang dipergunakan di sebagian terbesar Negara-negara di dunia. Kepopulerannya yang cepat dari grafik gambar internasional” ini karena kenyataannya grafik-grafik itu membentuk satu bahasa yang sama dan dimengerti oleh seluruh bangsa. Lambang-lambang grafik ini mudah dimengerti oleh siswa dari semua tingkat pendidikan.
Prinsip Membuat Grafik
Data statistic umumnya disajikan dalam beberapa jenis grafik. Pemakaiannya tidak menuntut keterampilan khusus cukup dengan memahami prinsip dasar pembuatan grafik., yakni sederhana, berisi hubungan data, dapat dibaca dan dipahami. Grafik yang ruwet kadang-kadang diperlukan dalam membagan berbagai factor untuk tujuan perindustrian atau perekonomian. Tetapi grafik-grafik semacam itu mengorbankan keefektifan komunikasi.

3 Tanggapan so far »

  1. 1

    Anita Adesti said,

    Sya suka Artikel anda… terima kasih ya sudah banyak membantu tugas tugas saya

  2. 2

    siti said,

    tolong kirimkan penelitian tentang analisis visual pada buku teks pelajaran dong??
    ada tak??


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: