MAKALAH PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Hitam-putih potret pendidikan Indonesia kembali mewarnai momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional. Berbagai peristiwa nonpekerti seperti misalnya kecurangan UN oleh para tenaga pendidik bak awan pekat yang menyelimuti pendidikan bangsa ini. Di lain pihak, berbagai prestasi gemilang mampu diukir putra-putri terbaik Indonesia di pentas internasional. Sebutlah, salah satunya aksi mahasiswi Indonesia yang mampu merebut the best oralist peradilan semu internasional. Berangkat dari hal tersebut, maka dapat kita katakan bahwa kualitas SDM Indonesia tidaklah seburuk apa yang kita bayangkan.

BAB II
PEMBAHASAN
Berbagai kebijakan seperti ujian akhir, kurikulum, dan jenjang pendidikan yang sering berganti dan tanpa melalui proses evaluasi dan kajian yang mendalam tentang dampak apa yang akan terjadi nantinya adalah bukti lemahnya sistem yang diciptakan. Pemerintah belum tanggap sepenuhnya terhadap problematika pendidikan bagi warga negara.
2.1 Filosofi Pendidikan Indonesia
Dari sisi filosofi pendidikan, Indonesia juga belum berhasil merumuskan pendidikan seperti apa yang menjadi model pendidikan di Indonesia. Ditengah globalisasi dan modernisasi, pendidikan Indonesia seperti gagap mengkritisi efek negatif dari globalisasi dan modernisasi. Pendidikan Indonesia semakin jauh dari cita-cita founding father yang termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.
Filosofi tujuan pendidikan nasional dalam Undang-Undang Pendidikan Nasional banyak yang menilai sudah ketinggalan jaman karena hanya terkonsentrasi pada aktivitas guru, dosen, atau pendidik. Filosofi yang demikian dianggap akan membatasi kreativitas peserta didik dan pedagoginya cenderung bersifat naratif dan indoktrinatif. Peserta didik ditempatkan seperti obyek penderita atau gudang yang dipaksa menyimpan materi berdasar kurikulum yang diajarkan.
Ruang kreativitas dan aktualisasi diri peserta didik amat kurang sehingga kreativitas peserta didik berkutat pada kiat mencotek atau mengembangkan metode repetisi bahan-bahan. Pendidik lebih aktif dan peserta didik lebih pasif dan membeo. Filosofi pendidikan seperti ini kurang membebaskan peserta didik dan bersimpangan dengan alam demokrasi yang sedang dikembangkan.
Tujuan pendidikan nasional perlu dirumuskan kembali sehingga memuat secara implisit filosofi pendidikan sebagai ‘educare’. Educare berarti membimbing, menuntun, dan memimpin. Filosofi pendidikan sebagai educare ini lebih mengutamakan proses pendidikan yang tidak terjebak pada banyaknya materi yang dipaksakan kepada peserta didik. Proses pendidikan educare lebih menekankan pada aktivitas hidup untuk menyertai, mengantar, mendampingi, membimbing, dan mengkondisikan agar peserta didik memiliki kemampuan untuk lebih berkembang.
2.2 Wajah Pendidikan Indonesia Terkini
Saat ini, indonesia sedang dilanda krisis multidimensi. Beberapa diantaranya adalah krisis ekonomi yang membuat kemiskinan meraja lela dan krisis akhlak yang menimbulkan kriminalitas di mana-mana. Permasalahan ini diakibatkan oleh lemahnya sistem pendidikan baik dari segi dana, fasilitas, maupun materi. Bila masalah ini tidak dikaji dan dibenahi secara serius, kemajuan negara yang didambakan akan lambat tercapai. Pendidikan di negara ini perlu dibenahi lagi secara terprogram. Banyak permasalahan yang melanda aspek pendidikan di tanah air ini. Permasalahan itu dianatarnya menyangkut aspek ekonomi (anggaran), kurikulum (materi dan system), dan investasi pada guru sebagai pembentuk anak bangsa. Anggaran dana pendidikan kita masih kurang. Pendidikan yang layak hanya mampu membina generasi-generasi tunas bangsa yang berasal dari golongan menengah ke atas. Sementara mereka yang berasal dari strata bawah kurang mendapat perhatian pendidikan yang layak dan terprogram secara terstruktur. Dalam UU Nomor 18 tahun 2006 tentang APBN tahun lalu pemerintah hanya mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar Rp 90,10 triliun. Jumlah itu hanya 11,8 persen dari total APBN 2007 yang besarnya mencapai Rp 763,6 triliun. Hal ini bertentangan dengan Pasal 31 ayat 4 UUD RI 1945 yang menyatakan negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN dan APBD. (data 18 Januari 2007). Jika anggaran pendidikan seperti ini, mana mungkin masyarakat yang berpendidikan akan tercipta? Mana mungkin proses kebangkitan bangsa akan berkembang pesat?
2.3 Pendidikan Dan Kebangkitan Nasional
Kurikulum pendidikan sekolah formal lebih banyak menekankan aspek teoritis generalis daripada aplikasi dan spesialisasi. Pendalaman terhadap ilmu pun hanya berkisar pada tataran idealis berdasarkan teori bukan kepada masalah realistis, sehingga pengembangan kreativitas dan keahlian bidang IPTEK berjalan kurang baik. Hal inilah menyebabkan bangsa ini kurang produktif dalam menghasilkan produk-produk teknologi. Pembinaan akhlak yang berlandaskan pada agama pun masih kurang. Pelajaran agama terkadang hanya dipandang sebagai penambah wawasan tanpa diwujudkan dalam bentuk moral dan akhlakul karimah. Ingatlah pepatah, Knowledge is power but character is more. Ilmu pengetahuan adalah utama, tetapi karakter (moral) lebih utama. Dan moral akan terbentuk bila seseorang memiliki pemahaman agama yang dimulai dari hati. Terasa hampa jika pengetahuan kita luas dan IPTEK maju tapi pribadi kita sempit, egois, dan jauh dari etika moral yang mulia. Adalah kewajiban kita membentuk karakteristik ilmu padi. Semakin tumbuh tinggi, semakin merunduk. Semakin tinggi pengetahuan semakin rendah hati dan menjadi teladan bagi masyarakat baik dalam segi pemikiran maupun tindakan. Inilah yang kurang terasa pada output pendidikan saat ini.
Permasalahan pendidikan lain yang terjadi pada masyarakat kita adalah kurangnya atensi dan penghargaan pada guru. Padahal merekalah tulang punggung peradaban bangsa yang memberantas kebodohan yang melanda masyarakat. Adalah wajib bagi seorang guru untuk mendapat reward yang besar. Dalam konteks persekolahan guru adalah ujung tombak. Guru memegang peranan yang sangat penting untuk menjamin proses pembelajaran bisa berlangsung. Mungkin itulah yang menjadi landasan pikiran bagi Ho Chi Min (bapak pendidikan Vietnam) yang mengatakan bahwa, No teacher No education. No education, no economic and social development. Begitu tingginya arti seorang guru bagi pembelajaran bangsa ini. Kita dapat bercermin pada Jepang. Ketika Hirosima dan Nagasaki dibom oleh tentara sekutu menggunakan bom atom sampai luluh lantah, Sang kaisar Jepang, Hirohito dengan penuh kekhawatiran langsung bertanya kepada pusat informasi. Tahukah anda apa yang dia tanyakan? Kaisar Hirohito bukan menanyakan berapa jumlah tentara, tank, pesawat tempur, kapal perang yang ada atau jumlah aset negara yang tersisa. Tapi yang ia tanyakan adalah berapa jumlah guru yang masih hidup? Luar biasa! Begitu fahamnya pemahaman sang pemimpin akan fungsi guru. Dia tidak khawatir Jepang akan hancur selamanya, karena guru masih banyak yang hidup. Memang tidaklah aneh, hanya dalam waktu yang singkat, Jepang sudah kembali seperti semula sebagai negara maju, berkat memaksimalkan fungsi guru.
Pendidikan indonesia harus segera dibenahi dan mendapat perhatian yang besar. Karena pendidikan adalah tonggak akselerasi kebangkitan nasional di era globalisasi ini. Kerja sama, analisa, dan dialog solutif perlu dilaksanakan oleh pemerintah dengan para pakar pendidikan, guru, scientist, ulama, dan pengusaha. Dengan usaha itu diharapkan permasalahan pendidikan (dana, kurikulum dan sistem serta atensi pada SDM pendidikan) akan terpecahkan secara terprogram dan terstruktur. Jika hal ini berhasil, tidaklah mustahil kita, bangsa Indonesia akan mampu menjadi negara maju mengalahkan negara-negara yang memberikan utang yang kononnya gratis. Ya minimal sejajar dengan negara-negara barat, sudah cukup.

BAB III
KESIMPULAN
Bahwa pendidikan di Indonesia masih ketinggalan jauh dibandingkan dengan Negara tetangga seperti singapura dan Malaysia. Ini disebabkan kurangnya perhatian pemerintah dalam dunia pendidikan itu sendiri, dengan contoh gaji Guru yang relative kecil sedangkan tanggungjawab guru lebih besar karena di tangan para gurulah pemimpin-pemimpin bangsa ini lahir.

DAFTAR PUSTAKA
http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Ketapang&id=28882
http://gibranhuzaifah.wordpress.com/2008/06/17/dosa-pendidikan-indonesia/
http://kebangkitan-indonesia.blogspot.com/2008/07/pendidikan-dan-kebangkitan-nasional.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: